BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Oseanografi
fisika adalah kajian
tentang aspek fisika di laut yang meliputi sifat-sifat fisis dan dinamika laut, sedangkan dinamika itu sendiri
merupakan gerak air laut yang meliputi arus laut,
gelombang laut dan pasang surut laut. Adanya faktor-faktor fisik air laut, sepeti arus di lautan
disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan faktor internal (Arief
et al. 2013).
Batimetri
yaitu ilmu yang mempelajari pengukuran kedalaman lautan, laut atau tubuh
perairan lainnya, dan peta batimetri adalah peta yang menggambarkan perairan
serta kedalamannya. Kemudian para ahli juga mengatakan batimetri berasal dari
bahasa Yunani yang berarti pengukuran dan pemetaan topografi di bawah laut.
Sama seperti yang disampaikan oleh Poerbandono dan Djunarsjah, batimetri
merupakan proses penggambaran dasar perairan sejak pengukuran, pengolahan
hingga visualisasinya (Kusumawati et al.
2015).
Bathimetri
adalah studi tentang kedalaman air danau atau dasar lautan. Dengan kata lain, bathimetri adalah setara dengan hypsometry bawah air. Peta bathimetri atau hidrografi biasanya
diproduksi untuk mendukung keselamatan navigasi permukaan atau sub-permukaan,
dan biasanya menunjukkan relief dasar laut atau daerah dasar laut sebagai garis
kontur atau isodepth dan pemilihan
kedalaman atau sounding, dan biasanya
juga menyediakan informasi mengenai navigasi permukaan . Peta Bathimetri dapat
juga dibuat dengan menggunakan Digital Terrain Model dan teknik pencahayaan
buatan untuk menggambarkan kedalaman yang digambarkan (Effendi
et al. 2015).
Oseanografi
dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu ilmu yang mempelajari
lautan. Ilmu ini semata-mata bukanlah merupakan suatu ilmu yang murni, tetapi
merupakan perpaduan dari bermacam-macam ilmu dasar yang lain. Ilmu-ilmu lain
yang termasuk di dalamnya ialah ilmu tanah atau geology. Ilmu bumi atau geography.
Ilmu fisika atau physics, ilmu kimia
atau chemistry. Ilmu hayat atau biology dan ilmu iklim. Salah satu
metode dapat dilakukan dalam mempelajari oseanografi fisika yakni pengamatan
langsung dengan melakukan praktek untuk
mengetahui oseanografinya itu sendiri (Syaputri et al. 2016).
Oseanografi
fisika dapat diketahui dengan cara mengukur pasang surut, ombak, arus, angin
seperti yang telah kita lakukan, itu hanya sebagian dari oseanografi fisika
tersebut, sehingga diperoleh gambaran dasar tentang perbedaan dari data
tersebut. Adanya faktor-faktor fisik air laut, sepeti temperatur dan perubahan
arus dapat menyuburkan laut. Kedua, laut digunakan oleh manusia untuk berbagai
aktivitas. Manusia banyak menggunakan laut, seperti untuk transportasi,
pengeboran minyak dan gas, rekreasi, berenang, perikanan dan lain-lain. Ketiga
laut dapat kita ketahui sangat mempengaruhi kondisi cuaca dan iklim. Laut
mempengaruhi distribusi hujan, kemarau, banjir dan kondisi lingkungan suatu
daerah (Riadi
et al. 2014).
Kata
oseanografi adalah kombinasi dari dua kata yunani yaitu oceanus atau samudera dan graphos atau uraian atau deskripsi
sehingga oseanografi mempunyai arti deskripsi tentang samudera. Tetapi lingkup
oseanografipada kenyataan lebih dari sekedar deskripsi tentang samudra, karena samudra
sendiri akan melibatkan berbagai disiplin ilmu jika ingin diungkapkan. Osenografi
fisika merupakan konsentrasi ilmu oseanografi yangmempelajari segala sesuatu
tentang kejadian fisika yang terjadi di lautan. Oleh karena itu pada praktikum
mata kuliah Oseanografi Fisika dijelaskan bagaimana cara mengoperasikan
software agar mahasiswa dapat melakukan pengolahan serta akhirnya dapat
mengetahui arah dan kecepatan serta batimetri (Kusumawati et al. 2015).
1.2
Tujuan
Adapun
tujuan dari praktikum ini yaitu:
1.
Mahasiswa dapat
membuat peta batimetri dari peta analog.
2.
Mahasiswa dapat
membandingkan tingkat akurasi antara hasil pengukuran langsung dilapangan dari
hasil satelit.
1.3
Manfaat
Adapun manfaat dari praktikum yang
telah dilakukakan tentang batimetri ini yaitu setelah praktikum mahasiswa mampu
memahami dan membuat peta batimetri dari peta analog serta setelah praktikum
mahasiswa dapat memahami serta membandingkan tingkat akurasi antara hasil
pengukuran langsung dilapangan dari hasil satelit.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pemetaan
batimetri menjadi hal yang penting yang mendasar untuk memanajemen kawasan
pesisir. Terlebih lagi Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar
dengan jumlah 18.108 pulau. Hal ini tentu memberikan prospek sekaligus
tantangan bagi pembangunan di Indonesia, terutama wilayah pesisir dan sektor
kelautan. Untuk mewujudkan terselenggaranya pemanfaatan potensi kelautan dan
pesisir, perlu ditunjang dengan kegiatan dan ilmu hidrografi. Kegiatan utama
dalam penerapan ilmu hidrografi di lapangan adalah survei batimetri. Survei
batimetri bertujuan untuk menentukan kedalaman untuk memetakan topografi di
suatu dasar perairan (Bobsaid dan Jaelani, 2015).
Pengukuran
batimetri diperlukan untuk mengetahui kedalaman dari perairan sungai Kampar di
mana gelombang sangatlah berbanding terbalik dengan kedalaman, artinya semakin dangkal
suatu perairan maka akan semakin tinggi gelombang yang ditimbulkan (shoaling effect). Adanya gelombang Bono menimbulkan
beberapa permasalahan dalam kaitannya dengan ketidakstabilan morfologi dasar perairan
yang selalu berubah tergantung dengan musim dan arah angin (Nurkhayati,
2014).
Dewasa
ini teknologi memberikan peluang untuk pemetaan batimetri perairan dangkal
secara efektif dan efisien, terutama untuk daerah yang memiliki tingkat
perubahan kedalaman secara cepat. Keuntungan lainnya yaitu dapat dilakukan
revisi pemetaan perairan dangkal dengan cepat dan murah. Selain itu daerah
cakupan data penginderaan jauh cukup luas sehingga sangat baik untuk mengetahui
apa saja yang terjadi di lingkungan sekitarnya, sehingga mudah untuk mengetahui
keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Penggunaan teknologi penginderaan
jauh untuk pemetaan batimetri ini akan sangat berguna untuk menentukan jalur
pelayaran yang aman pada saat kapal berlayar di perairan dangkal (Effendi
et al. 2015).
Penggunaan
teknologi selain mudah didapatkan, daerah cangkupannya begitu luas namun masih
memiliki resolusi spasial yang baik. Surfer adalah salah satu perangkat lunak
yang digunakan untuk pembuatan peta
kontur dan pemodelan tiga dimensi dengan berdasarkan pada grid. Contoh peta
hasil surfer adalah peta topografi, peta anomalimagnet, peta anomali gravity,
peta batimetri dan lain-lain. Surfer melakukan plotting data tabular XYZ tak
beraturan menjadi lembar titik-titik segi empat yang beraturan (Bobsaid dan Jaelani,
2015).
Grid
adalah serangkaian garis vertikal dan horizontal yang dalam surfer berbentuk segi empat dan digunakan sebagai
dasar pembentuk kontur dansurface tiga dimensi. Garis vertikal dan horisontal
ini memiliki titik-titik perpotongan. Pada titik perpotongan ini disimpan nilai
Z yang berupa titik ketinggian atau kedalaman. Gridding merupakan proses
pembentukan rangkaian nilai Z yang teratur dari sebuah data XYZ. Hasildari
proses gridding ini adalah file grid yang tersimpan pada file. grd. Batimetri
adalah proses penggambaran dasar perairan sejak pengukuran, pengolahan, hingga visualisasinya
(Nurkhayati,
2014).
Teknik
awal yang digunakan dalam pengukuran bathimetri
adalah dengan tali yang diberikan pemberat. Keterbatasan terbesar dari teknik
ini adalah bahwa metode ini hanya mengukur kedalaman pada satu titik pada satu
waktu, dan sangat tidak efisien. Selain itu metode ini juga sangat dipengaruhi
oleh pergerakan kapal dan arus terhadap tali, sehingga membuatnya tidak akurat.
Beberapa pekerjaan atau karier yang berkaitan dengan batimetri adalah studi
tentang lautan, batu-batuan dan mineral di dasar laut, studi tentang gempa bumi
atau gunung berapi bawah laut. Pengukuran dan analisis pengukuran bathymetri
adalah salah satu inti dari Hidrografi modern, dan komponen fundamental dalam
memastikan keselamatan angkutan barang di seluruh dunia (Arief
et al. 2013).
Kondisi
batimetri di perairan merupakan hal yang sangat penting dalam hubungannya
dengan pemanfaatan ruang di daerah pantai. Mendiskripsikan batimetri dasar laut
diperlukan di perairan Pulau Parang sebagai pedoman jalur pelayaran yang jelas
agar kapal yang melintas tidak karam terkena terumbu karang.Berdasarkan uraian
tersebut maka penelitian batimetri di Pulau Parang Karimunjawa perlu
dilakukan.Penelitian ini menggunakan pancaran gelombang akustik sebagai
pendekatan untuk pemetaan batimetri.Pancaran gelombang akustik tersebut dilakukan
dengan bantuan alat Echosounder yang mana sangat cocok untuk menampilkan profil
dasar laut karena pengukuran kedalaman dengan cepat serta membantu navigasi
secara real-time (Syaputri et al. 2016).
Suatu model batimetri digital yang menggambarkan topografi dasar perairan dapat dibangun dari operasi interpolasi sejumlah besar titik kedalaman hasil pemeruman. Surfer adalah suatu program pemetaan yang dapat dengan mudah melakukan interpolasi data hasil survei untuk membentuk kontur dan permukaan 3D. Studi ini bertujuan
memban - dingkan tiga metode interpolasi pada perangkat lunak Surfer untuk pembuatan kontur
batimetri. Ketiga metode tersebut adalah metode Kriging, metode kebalikan jarak terbobot atau inverse distance to power, dan metode minimum curvature (Rahmawan et al. 2016).
Batimetri adalah ilmu
yang mempelajari kedalaman di bawah air dan studi tentang tiga
dimensi lantai samudra atau danau. Sebuah peta batimetri
umumnya menampilkan relief lantai atau dataran dengan garis-garis
kontur yang disebut kontur kedalaman (depth contours atau isobath),
dan dapat memiliki informasi tambahan berupa informasi navigasi permukaan. Dalam mengolah data
spasial, data kontur sering sekali digunakan karena dengan data kontur kita
dapat mengetahui informasi ketinggian suatu daerah atau wilayah dan juga dapat
membayangkan bentuk fisik suatu wilayah (Riadi
et al. 2014).
Garis kontur adalah garis yang menghubungkan
titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama dari suatu datum/bidang acuan
tertentu. Berikut adalah contoh dari kontur yang didapat dari data raster yang
mempunyai informasi ketinggian (informasi datanya setara dengan Digital Elevation Model atau DEM). Untuk membuat peta batimetri, maka kita terlebih
dahulu harus melakukan proses pendigitan peta batimetri. Pendigitan peta bisa
kita lakukan pada berbagai software misalnya pada arview, arcgis, surfer dan lain-
lain. Sebelum memulai proses pendigitan peta yang mana terlebih dahulu harus
melakukan proses regsistrasi peta (Rahmawan et al. 2016).
Dilihat dari kedalaman
lautmya, perairan Indonesia pada garis besarnya dapat di bagi dua yakni
perairan dangkal berupa paparan dan perairan laut dalam. Paparan (shelf)
adalah zona di laut terhitung mulai dari garis surut terendah hingga pada
kedalaman sekitar 120 - 200 m yang kemudian biasanya disusul dengan lereng yang
lebih curam ke arah dalam. Ada dua paparan yang luas di Indonesia yakni Paparan
Sunda di sebelah barat dan Paparan Arafura-Sahul di sebelah timur. Indonesia mempunyai
topografi dasar laut yang kompleks, hal ini di sebabkan karena di kawasan
Indonesia berbenturan atau bergesekan empat lempeng litosfer yakni
lempeng-lempeng Eurasia, Filipina, Pasifik dan Samudra Hindia-Australia
(Nontji, 2007).
Sekarang ini, peta batimetri ini dapat divisualisasikan
dalam tampilan 2 dimensi maupun 3 dimensi. Visualisasi tersebut dapat dilakukan
karena perkembangan teknologi yang semakin maju, sehingga penggunaan komputer untuk melakukan kalkulasi
dalam pemetaan mudah dilakukan. Data batimetri dapat diperoleh dengan
penggunaan teknik interpolasi untuk pendugaan data kedalaman untuk
daerah-daerah yang tidak terdeteksi merupakan hal mutlak yang harus
diperhatikan. Teknik interpolasi yang sering digunakan adalah teori Universal
Kriging (Arief
et al. 2013).
Di daratan, garis kontur menghubungkan
tempat-tempat berketinggian sama,
sedangkan kontur pada batimetri menghubungkan tempat-tempat dengan kedalaman
sama di bawah permukaan air. Penggukuran kedalaman juga berpengaruh pada cahaya (kecerahan). Cahaya
matahari merupakan sumber energi bagi kehidupan jasad hidup diperairan. Cahaya
matahari dibutuhkan oleh tumbuhan air dimana untuk proses fotosintesis. Cahaya
yang jatuh dipermukaan air sebagian akan dipantulkan dan sebagian lagi akan
diserap. Cahaya yang diserap akan diubah menjadi panas. Cahaya inilah yang nantinya akan
menentukan kecerahan suatu perairan (Siregar dan Selamat
2009).
Batimetri merupakan
salah satu suatu data pendukung untuk membuat Pembangunan sebuah bangunan
pantai khususnya yakni dermaga. Batimetri itu sendiri disajikan dalam bentuk
peta batimetri. Batimetri merupakan ilmu yang mempelajari pengukuran kedalaman
lautan, laut atau tubuh perairan lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan peta
batimetri merupakan peta yang menggambarkan suatu perairan beserta kedalaman
suatu perairan tersebut. Ada hal yang disebut dengan perumunan (Bobsaid dan Jaelani, 2015).
Seperti yang kita
ketahui bahwa untuk dapat mengetahui suatu kedalaman laut dan juga menganalisa
morfologi maka yang dibutuhkan informasi ataupun mengetahui kedalaman laut atau
biasa kita sebut dengan batimetri, sehingga dilakukan survei batimetri. Survei
batimetri merupakan sebuah proses penggambaran suatu dasar perairan (Nurkhayati, 2014).
Satelit ini mengukur tinggi paras muka laut
relatif terhadap pusat massa bumi. Sistem satelit ini memiliki radar yang dapat
mengukur ketinggian satelit di atas permukaan laut dan sistem tracking untuk
menentukan tinggi satelit pada koordinat
geosentris. Satelit Altimetri diperlengkapi dengan pemancar pulsa radar ( transmiter ), penerima pulsa radar yang sensitif (receiver ), serta jam berakurasi tinggi (Bobsaid dan Jaelani, 2015).
Bentuk kontur batimetri dari plot hasil sounding
diamati sesuai dengan aturan-aturan sederhana sederhana. Garis kontur tidak
pernah saling berpotongan atau melewati
atau tumpang tindih satu sama lainnya. Contoh,jika garis kontur 100 meter
adalah gambaran garis lepas pantai ke sambungangaris pantai,semua kedalaman 100
m harus pada garis tersebut dan semua hasil sounding yang lebih dangkal dari
100 m harus di antara garis kontur tersebut dan pantai. Jika hasil sounding
lebih besar dari 100 m yang ditemui di wilayah yang dilukiskan dengan kontur
tersebut,letak garis-garis harus disesuaikan (Siregar dan
Selamat 2009).
Kita dapat memperleh topografi dari peta kontur
ataupun peta laut dengan membentuk atau membangun suatu topografi sepanjang
garis pilihan atau lintasan.Profil adalah seperti suatu grafik kedalaman dasar
laut yang diplotkan secara vertical dan jaraknya diplotkan secara horizontal.
Berdasarkan hasil penggambaran tersebut akan diperoleh bentuk dasar laut (Nurkhayati, 2014).
Asas yang sama digunakan untuk letak dari garis
ysng bertambah kedalamannya. Wilayah garis antara 100-200 m tidak harus memuat
titik-titik kurang dari 100 m atau lebih dari 200 m. Jarak penutup antara
kontur-kontur menunjukkan suatu slope yang curam atau suatu kecuraman diubah
menjadi kedalaman. Akhirnya garis kontur menutup diatasnya. Kontur-kontur yang
sedikt menonjol dapat tertutup di dalam daerah
peta,sehingga ujungnya bergabung/menyatu,sedangkan kontur-kontur yang
lebih besar akan menonjol dan menutup turunan wilayah peta (Fachrurrozi
et al. 2013).
Global Mapper adalah salah satu
perangkat lunak yang cukup populer sering digunakan oleh kalangan praktisi GIS
atau orang-orang yang berkecimpung di bidang pemetaan. Salah satu keistimewaan
program ini adalah kompatibilitasnya dengan banyak sekali format file. Sehingga
dapat digunakan oleh banyak orang untuk pengetahuan lain (Siregar
dan Selamat 2009).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan
pada hari selasa, 06 Februari 2018, pukul 13:00 WIB sampai dengan selesai.
Pratikum ini dilaksanakan di Laboratorium Oseanografi dan Instrumentasi
Kelautan Program Studi
Ilmu Kelautan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Sriwijaya.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun
alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini:
No
|
Nama
|
Fungsi
|
1.
2.
3.
|
Laptop
Mouse
Sofware Global
Mapper
|
Digunakan untuk
mengolah data dari sofware
Mempermudah
mengeser pointer
Sofware
yang digunakan pada saat pratikum
|
3.3 Cara kerja


![]() |
|||||
![]() |
|||||
|
Ø Mengunakan
Global Mapper

Ø
Menggunakan Data Batimetri dari SRTM ke Surfer
|
![]() |
3.3
Analisa data
1.
Buka softwere
global mapper pada laptop atau komputer anda dan buka open your own data files.
![]() |
2.
Kemudian pilih
data yang akan digunakan.
![]() |
3. Kemudian pilih manually rectify image dan klik ok.
![]() |
4.
Maka data peta
akan terbuka sepert pada gambar dibawah ini.
![]() |
5.
Kemudian
lakukan penitikan pada bagian kiri atas dengan nilai X(114 20 00) dan Y(-1 50
00).

6.
Kemudian
lakukan penitikan pada bagian kiri bawah dengan X(114 20 00) dan Y (-4 50 00).

7.
Kemudian
lakukan penitikan pada bagian kanan bawah dengan X (121 10 00) dan Y ( -4 50
00).

8.
Kemudian
lakukan penitikan pada bagian kanan atas dengan X (121 10 00) dan Y (-1 50 00).

9.
Maka di dapatkan
hasil penitikan sebanyak 4 point penitikan.

10.
Kemudian
klik aplly dan ok.

11.
Kemudian akan di
dapat hasil registrasi seperti pada gambar dibawah ini
![]() |
12.
Kemudian
klik file pilih export dan pilih export raster atau image format.

13.
Kemudian
pilih format geotiff dan klik ok..

14.
Kemudian pilih
file type dangan tipe 24-Bit RGM dan klik ok.

15.
Kemudian
tentukan nama file yang akan di save.

16.
Kemudian
data akan tersimpan pada lokasi yang diinginkan.

17.
Kemudian
buka softwere ArcGis pada komputer atau laptop anda.

18.
Kemudian
klik add data dan pilih data yang akan digunakan lalu klik add.

19.
Kemudian
tunggu proses dan akan muncul tampilan seperti dibawah ini.

20.
Kemudian
klik katalog, klik kanan pada file yang diinginkan lalu pilih new dan klik
shapefile.

21.
Kemudian
buat nama dan feature type.

22.
Kemudian tentukan word WGS 1984 dan klik ok.

23.
Kemudian klik
editor, klik start editing dan lakukan penitikan sebanyak 50 titik.
![]() |
24.
Setelah itu stop
editing.
25.
![]() |
26.
Klik kanan pada
batimetri,pilih open attribute table.
27.
![]() |
28.
Klik
add file.

29.
Kemudian
tentukan nama, pilih type text dan ok.

30.
Kemudian
masukkan anggka pada tebel berdasarkan titik yang telah ditentukan.

31.

Maka
didapatkan hasil seperti dibawah ini sebanyak 50 data.


32.
Maka
didapat hasil penitikan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
4.1.1
Hasil digitasi
![]() |
4.1.2
Hasil attribude table
![]() |
![]() |
4.2
Pembahasan
Dari praktikum yang
telah dilakukan mahasiswa dapat melakukan pembuatan peta batimetri dengan
menggunakan beberapa softwere diantaranya global
mapper, surfer9 atau ArcGis. Langkah-langkah yang dilakukan
memang cukup panjang dan rumit. Itulah sebabnya mahasiwa harus benar-benar
konsenstrasi dalam mendigit dan menggabungkan hasil digitan dari laut, pulau
dan darat. Karena apabila kita salah sedikit saja dari langkah yang sudah di
tentukan, maka hasil yang kita dapat bisa saja jauh berbeda dengan hasil yg seharusnya,
itulah harus dibutuhkan ketelitian dan nalar yang sangat tinggi dalam
pendigitan dan praktikum kali ini.
Dalam
melakukan pendigitan pada saat registrasi pada global mapper harus dilakukan
dengan benar dan teliti, karena pabila salah dalam penginputan data dan salah
dalam membaca setiap titik koordinat pada peta maka hasil yang didapatkan pada
registrasi akan tidak bisa maksimal. Oleh karena itu sangat dibutuhkan sekali
ketelitian dan pemahaman yang tinggi. Pada ArcGis
juga dilakukan pendigitan sebanyak 50 titik yang berbeda. Jadi setiap titik itu
juga memiliki kedalaman yang berbeda-beda satu sama lain.
Alur
selat makasar merupakan alur pelayaran di sekitar pulau kalimantan dan Pulau
sulawesi yang terletak di pantai timur. Setelah didapatkan peta, kemudian
diolah menggunakan software global mapper
kemudian dilakukan digitasi terhadap laut kemudian data di-grid dan diperolah
kontur batimetri seperti gambar diatas. Dapat diketahui bahwa suatu garis
pantai merupakan suatu batas pertemuan dimana diantara bagian laut dan daratan
pada saat terjadi air laut pasang tertinggi.
Dapat diketahui juga satu mil sama
dengan 1,852 kilometer. Pada hasil registrasi biasanya ada saja yang
mendapatkan hasil peta yang terbalik hal tersebut dikarenakan pada saat
pengisian titik koordinat longitude dan latitude terjadi kesalahan seperti
tanda min. Sehingga pada titik koordinat Y harus diberikan tanda min supaya
peta yang dihasilkan tidak terbalik. Selain itu juga peta batimetri sangat
digunakan dimana sebagai data informasi mengenai dasar laut. Pada praktikum ini
didapatkan empat titik koordinat yang diantaranya yaitu pertama X(114 20 00)
dan Y(-1 50 00), kedua X(114 20 00) dan Y (-4 50 00), ketiga X (121 10 00) dan
Y ( -4 50 00) dan yang keempat X (121 10 00) dan Y (-1 50 00).
BAB V
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu:
1. Data
yang digunakan dalam praktikum ini data peta Selat Makasar.
2. Software global mapper dan
ArcGis digunakan nntuk membuat peta batimetri.
3. Kesalahan
dalam pembacaan dan pengisian titik koordinat peta pada saat registrasi dapat
menyebabkan hasil peta miring ataupun terbalik.
4. Software ArcGis
digunakan pada saat melakukan pendigitan peta batimetri.
5. Peta
batimetri dapat digunakan untuk informasi mengenai dasar laut.
DAFTAR PUSTAKA
Arief M, Maryani H, Wikanti A dan Ety P. 2013.
Pengembangan pendugaan metode kedalaman perairan. Jurnal Oseana. Vol 2(1): 112-121.
Bobsaid MW, Jaelani LM. 2015. Studi Pemetaan
Batimetri Perairan Dangkal Menggunakan Citra Satelit Landsat 8 dan Sentinel-2A (Studi
Kasus : Perairan Pulau Poteran dan Gili Iyang, Madura). Jurnal Teknik ITS. Vol 4 (1): 629-633.
Effendi K, Risandi DP, Arief P. 2015. Pemetaan
batimetri Perairan Pantai Pejem Pulau Bangka. Jurnal Oseanografi. Vol 4(2).
Fachrurrozi M, Widada S, Helmi M. 2013. Studi
pemetaan batimetri untuk keselamatan pelayaran Di Pulau Parang, Kepulauan
Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Oseanografi. Vol 2 (3): 310-317
Kusumawati ED, Handoyo G, Hariadi. 2015.
Pemetaan batimetri untuk mendukung alur pelayaran di Perairan Banjarmasin,
Kalimantan Selatan. Jurnal Oseanografi.
Vol 4(4): 706 – 712.
Nontji A. 2007. Laut nusantara. Jakarta: Djambatan.
Nurkhayati R. 2014. Pemetaan batimetri perairan
dangkal menggunakan citra quickbird di
Perairan Taman Nasional Karimun Jawa,
Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Jurnal
Oseanografi. Vol 3(4).
Rahmawan GA, Wisha UJ, Husrin S, Ilham.
2016. Analisis batimetri dan pasang surut Di Muara Sungai Kampar: pembangkit
penjalaran gelombang pasang surut undular bore (Bono). Jurnal Ilmiah Geomatika. Vol 22 (2): 57-64.
Riadi E, Muhammad Z, Purwanto, Priatin H W. 2014.
Studi kondisi dasar perairan menggunakan citra subbottom profiler di Perairan Tarakan
Kalimantan Timur. Jurnal Oseanografi.
Vol 3 (1).
Siregar VP, Selamat MB. 2009. Interpolator dalam
pembiuatan kontur peta batimetri. Jurnal
Ilmu Dan Teknologi Kelautan Tropis. Vol 1(1): 39-47.
Syaputri MD, Setiyono H, Subardjo P.
2016. Kajian batimetri untuk penentuan alur pelayaran Di Pelabuhan Teluk
Sabang, Sabang, Nangroe Aceh Darussalam. Jurnal
Oseanografi. Vol 5 (1): 148 – 160.