Sabtu, 22 September 2018

Laporan oseanografi fisika batimetri


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Oseanografi fisika adalah kajian tentang aspek fisika di laut yang meliputi sifat-sifat fisis dan dinamika laut, sedangkan dinamika itu sendiri merupakan gerak air laut yang meliputi arus laut, gelombang laut dan pasang surut laut. Adanya faktor-faktor fisik air laut, sepeti arus di lautan disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan faktor internal (Arief et al. 2013).
Batimetri yaitu ilmu yang mempelajari pengukuran kedalaman lautan, laut atau tubuh perairan lainnya, dan peta batimetri adalah peta yang menggambarkan perairan serta kedalamannya. Kemudian para ahli juga mengatakan batimetri berasal dari bahasa Yunani yang berarti pengukuran dan pemetaan topografi di bawah laut. Sama seperti yang disampaikan oleh Poerbandono dan Djunarsjah, batimetri merupakan proses penggambaran dasar perairan sejak pengukuran, pengolahan hingga visualisasinya (Kusumawati et al. 2015).
Bathimetri adalah studi tentang kedalaman air danau atau dasar lautan. Dengan kata lain, bathimetri adalah setara dengan hypsometry bawah air. Peta bathimetri atau hidrografi biasanya diproduksi untuk mendukung keselamatan navigasi permukaan atau sub-permukaan, dan biasanya menunjukkan relief dasar laut atau daerah dasar laut sebagai garis kontur atau isodepth dan pemilihan kedalaman atau sounding, dan biasanya juga menyediakan informasi mengenai navigasi permukaan . Peta Bathimetri dapat juga dibuat dengan menggunakan Digital Terrain Model dan teknik pencahayaan buatan untuk menggambarkan kedalaman yang digambarkan (Effendi et al. 2015).
Oseanografi dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu ilmu yang mempelajari lautan. Ilmu ini semata-mata bukanlah merupakan suatu ilmu yang murni, tetapi merupakan perpaduan dari bermacam-macam ilmu dasar yang lain. Ilmu-ilmu lain yang termasuk di dalamnya ialah ilmu tanah atau geology. Ilmu bumi atau geography. Ilmu fisika atau physics, ilmu kimia atau chemistry. Ilmu hayat atau biology dan ilmu iklim. Salah satu metode dapat dilakukan dalam mempelajari oseanografi fisika yakni pengamatan langsung dengan melakukan praktek  untuk mengetahui oseanografinya itu sendiri (Syaputri et al. 2016).
Oseanografi fisika dapat diketahui dengan cara mengukur pasang surut, ombak, arus, angin seperti yang telah kita lakukan, itu hanya sebagian dari oseanografi fisika tersebut, sehingga diperoleh gambaran dasar tentang perbedaan dari data tersebut. Adanya faktor-faktor fisik air laut, sepeti temperatur dan perubahan arus dapat menyuburkan laut. Kedua, laut digunakan oleh manusia untuk berbagai aktivitas. Manusia banyak menggunakan laut, seperti untuk transportasi, pengeboran minyak dan gas, rekreasi, berenang, perikanan dan lain-lain. Ketiga laut dapat kita ketahui sangat mempengaruhi kondisi cuaca dan iklim. Laut mempengaruhi distribusi hujan, kemarau, banjir dan kondisi lingkungan suatu daerah (Riadi et al. 2014).
Kata oseanografi adalah kombinasi dari dua kata yunani yaitu oceanus atau  samudera dan graphos atau uraian atau deskripsi sehingga oseanografi mempunyai arti deskripsi tentang samudera. Tetapi lingkup oseanografipada kenyataan lebih dari sekedar deskripsi tentang samudra, karena samudra sendiri akan melibatkan berbagai disiplin ilmu jika ingin diungkapkan. Osenografi fisika merupakan konsentrasi ilmu oseanografi yangmempelajari segala sesuatu tentang kejadian fisika yang terjadi di lautan. Oleh karena itu pada praktikum mata kuliah Oseanografi Fisika dijelaskan bagaimana cara mengoperasikan software agar mahasiswa dapat melakukan pengolahan serta akhirnya dapat mengetahui arah dan kecepatan serta batimetri (Kusumawati et al. 2015).

1.2  Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu:
1.    Mahasiswa dapat membuat peta batimetri dari peta analog.
2.    Mahasiswa dapat membandingkan tingkat akurasi antara hasil pengukuran langsung dilapangan dari hasil satelit.

1.3  Manfaat
          Adapun manfaat dari praktikum yang telah dilakukakan tentang batimetri ini yaitu setelah praktikum mahasiswa mampu memahami dan membuat peta batimetri dari peta analog serta setelah praktikum mahasiswa dapat memahami serta membandingkan tingkat akurasi antara hasil pengukuran langsung dilapangan dari hasil satelit.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pemetaan batimetri menjadi hal yang penting yang mendasar untuk memanajemen kawasan pesisir. Terlebih lagi Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar dengan jumlah 18.108 pulau. Hal ini tentu memberikan prospek sekaligus tantangan bagi pembangunan di Indonesia, terutama wilayah pesisir dan sektor kelautan. Untuk mewujudkan terselenggaranya pemanfaatan potensi kelautan dan pesisir, perlu ditunjang dengan kegiatan dan ilmu hidrografi. Kegiatan utama dalam penerapan ilmu hidrografi di lapangan adalah survei batimetri. Survei batimetri bertujuan untuk menentukan kedalaman untuk memetakan topografi di suatu dasar perairan (Bobsaid dan Jaelani, 2015).
Pengukuran batimetri diperlukan untuk mengetahui kedalaman dari perairan sungai Kampar di mana gelombang sangatlah berbanding terbalik dengan kedalaman, artinya semakin dangkal suatu perairan maka akan semakin tinggi gelombang yang ditimbulkan (shoaling effect). Adanya gelombang Bono menimbulkan beberapa permasalahan dalam kaitannya dengan ketidakstabilan morfologi dasar perairan yang selalu berubah tergantung dengan musim dan arah angin (Nurkhayati, 2014).
Dewasa ini teknologi memberikan peluang untuk pemetaan batimetri perairan dangkal secara efektif dan efisien, terutama untuk daerah yang memiliki tingkat perubahan kedalaman secara cepat. Keuntungan lainnya yaitu dapat dilakukan revisi pemetaan perairan dangkal dengan cepat dan murah. Selain itu daerah cakupan data penginderaan jauh cukup luas sehingga sangat baik untuk mengetahui apa saja yang terjadi di lingkungan sekitarnya, sehingga mudah untuk mengetahui keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Penggunaan teknologi penginderaan jauh untuk pemetaan batimetri ini akan sangat berguna untuk menentukan jalur pelayaran yang aman pada saat kapal berlayar di perairan dangkal (Effendi et al. 2015).
Penggunaan teknologi selain mudah didapatkan, daerah cangkupannya begitu luas namun masih memiliki resolusi spasial yang baik. Surfer adalah salah satu perangkat lunak yang digunakan untuk  pembuatan peta kontur dan pemodelan tiga dimensi dengan berdasarkan pada grid. Contoh peta hasil surfer adalah peta topografi, peta anomalimagnet, peta anomali gravity, peta batimetri dan lain-lain. Surfer melakukan plotting data tabular XYZ tak beraturan menjadi lembar titik-titik segi empat yang beraturan (Bobsaid dan Jaelani, 2015).
Grid adalah serangkaian garis vertikal dan horizontal yang dalam surfer  berbentuk segi empat dan digunakan sebagai dasar pembentuk kontur dansurface tiga dimensi. Garis vertikal dan horisontal ini memiliki titik-titik perpotongan. Pada titik perpotongan ini disimpan nilai Z yang berupa titik ketinggian atau kedalaman. Gridding merupakan proses pembentukan rangkaian nilai Z yang teratur dari sebuah data XYZ. Hasildari proses gridding ini adalah file grid yang tersimpan pada file. grd. Batimetri adalah proses penggambaran dasar perairan sejak pengukuran, pengolahan, hingga visualisasinya (Nurkhayati, 2014).
Teknik awal yang digunakan dalam pengukuran bathimetri adalah dengan tali yang diberikan pemberat. Keterbatasan terbesar dari teknik ini adalah bahwa metode ini hanya mengukur kedalaman pada satu titik pada satu waktu, dan sangat tidak efisien. Selain itu metode ini juga sangat dipengaruhi oleh pergerakan kapal dan arus terhadap tali, sehingga membuatnya tidak akurat. Beberapa pekerjaan atau karier yang berkaitan dengan batimetri adalah studi tentang lautan, batu-batuan dan mineral di dasar laut, studi tentang gempa bumi atau gunung berapi bawah laut. Pengukuran dan analisis pengukuran bathymetri adalah salah satu inti dari Hidrografi modern, dan komponen fundamental dalam memastikan keselamatan angkutan barang di seluruh dunia (Arief et al. 2013).
Kondisi batimetri di perairan merupakan hal yang sangat penting dalam hubungannya dengan pemanfaatan ruang di daerah pantai. Mendiskripsikan batimetri dasar laut diperlukan di perairan Pulau Parang sebagai pedoman jalur pelayaran yang jelas agar kapal yang melintas tidak karam terkena terumbu karang.Berdasarkan uraian tersebut maka penelitian batimetri di Pulau Parang Karimunjawa perlu dilakukan.Penelitian ini menggunakan pancaran gelombang akustik sebagai pendekatan untuk pemetaan batimetri.Pancaran gelombang akustik tersebut dilakukan dengan bantuan alat Echosounder yang mana sangat cocok untuk menampilkan profil dasar laut karena pengukuran kedalaman dengan cepat serta membantu navigasi secara real-time (Syaputri et al. 2016).
Suatu model batimetri digital  yang menggambarkan topografi dasar  perairan dapat dibangun dari operasi  interpolasi sejumlah besar titik  kedalaman hasil pemeruman. Surfer  adalah suatu program pemetaan yang  dapat dengan mudah melakukan  interpolasi data hasil survei untuk  membentuk kontur dan permukaan 3D. Studi ini bertujuan memban - dingkan tiga metode interpolasi pada  perangkat lunak Surfer untuk pembuatan kontur batimetri. Ketiga metode tersebut adalah metode Kriging, metode kebalikan  jarak terbobot atau inverse distance to power, dan metode minimum curvature (Rahmawan et al. 2016).
Batimetri adalah ilmu yang mempelajari kedalaman di bawah air dan studi tentang tiga dimensi lantai samudra atau danau. Sebuah peta batimetri umumnya menampilkan relief lantai atau dataran dengan garis-garis kontur yang disebut kontur kedalaman (depth contours atau isobath), dan dapat memiliki informasi tambahan berupa informasi navigasi permukaan. Dalam mengolah data spasial, data kontur sering sekali digunakan karena dengan data kontur kita dapat mengetahui informasi ketinggian suatu daerah atau wilayah dan juga dapat membayangkan bentuk fisik suatu wilayah (Riadi et al. 2014).
Garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama dari suatu datum/bidang acuan tertentu. Berikut adalah contoh dari kontur yang didapat dari data raster yang mempunyai informasi ketinggian (informasi datanya setara dengan Digital Elevation Model atau DEM). Untuk membuat peta batimetri, maka kita terlebih dahulu harus melakukan proses pendigitan peta batimetri. Pendigitan peta bisa kita lakukan pada berbagai software misalnya pada arview, arcgis, surfer dan lain- lain. Sebelum memulai proses pendigitan peta yang mana terlebih dahulu harus melakukan proses regsistrasi peta (Rahmawan et al. 2016).
Dilihat dari kedalaman lautmya, perairan Indonesia pada garis besarnya dapat di bagi dua yakni perairan dangkal berupa paparan dan perairan laut dalam. Paparan (shelf) adalah zona di laut terhitung mulai dari garis surut terendah hingga pada kedalaman sekitar 120 - 200 m yang kemudian biasanya disusul dengan lereng yang lebih curam ke arah dalam. Ada dua paparan yang luas di Indonesia yakni Paparan Sunda di sebelah barat dan Paparan Arafura-Sahul di sebelah timur. Indonesia mempunyai topografi dasar laut yang kompleks, hal ini di sebabkan karena di kawasan Indonesia berbenturan atau bergesekan empat lempeng litosfer yakni lempeng-lempeng Eurasia, Filipina, Pasifik dan Samudra Hindia-Australia (Nontji, 2007).
Sekarang ini, peta batimetri ini dapat divisualisasikan dalam tampilan 2 dimensi maupun 3 dimensi. Visualisasi tersebut dapat dilakukan karena perkembangan teknologi yang semakin maju, sehingga  penggunaan komputer untuk melakukan kalkulasi dalam pemetaan mudah dilakukan. Data batimetri dapat diperoleh dengan penggunaan teknik interpolasi untuk pendugaan data kedalaman untuk daerah-daerah yang tidak terdeteksi merupakan hal mutlak yang harus diperhatikan. Teknik interpolasi yang sering digunakan adalah teori Universal Kriging (Arief et al. 2013).
Di daratan, garis kontur menghubungkan tempat-tempat  berketinggian sama, sedangkan kontur pada batimetri menghubungkan tempat-tempat dengan kedalaman sama di bawah permukaan air. Penggukuran kedalaman juga  berpengaruh pada cahaya (kecerahan). Cahaya matahari merupakan sumber energi bagi kehidupan jasad hidup diperairan. Cahaya matahari dibutuhkan oleh tumbuhan air dimana untuk proses fotosintesis. Cahaya yang jatuh dipermukaan air sebagian akan dipantulkan dan sebagian lagi akan diserap. Cahaya yang diserap akan diubah menjadi  panas. Cahaya inilah yang nantinya akan menentukan kecerahan suatu perairan (Siregar dan Selamat 2009).
Batimetri merupakan salah satu suatu data pendukung untuk membuat Pembangunan sebuah bangunan pantai khususnya yakni dermaga. Batimetri itu sendiri disajikan dalam bentuk peta batimetri. Batimetri merupakan ilmu yang mempelajari pengukuran kedalaman lautan, laut atau tubuh perairan lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan peta batimetri merupakan peta yang menggambarkan suatu perairan beserta kedalaman suatu perairan tersebut. Ada hal yang disebut dengan perumunan (Bobsaid dan Jaelani, 2015).
Seperti yang kita ketahui bahwa untuk dapat mengetahui suatu kedalaman laut dan juga menganalisa morfologi maka yang dibutuhkan informasi ataupun mengetahui kedalaman laut atau biasa kita sebut dengan batimetri, sehingga dilakukan survei batimetri. Survei batimetri merupakan sebuah proses penggambaran suatu dasar perairan (Nurkhayati, 2014).
Satelit ini mengukur tinggi paras muka laut relatif terhadap pusat massa bumi. Sistem satelit ini memiliki radar yang dapat mengukur ketinggian satelit di atas permukaan laut dan sistem tracking untuk menentukan tinggi satelit  pada koordinat geosentris. Satelit Altimetri diperlengkapi dengan pemancar pulsa radar ( transmiter ),  penerima pulsa radar yang sensitif (receiver ), serta jam berakurasi tinggi (Bobsaid dan Jaelani, 2015).
Bentuk kontur batimetri dari plot hasil sounding diamati sesuai dengan aturan-aturan sederhana sederhana. Garis kontur tidak pernah saling  berpotongan atau melewati atau tumpang tindih satu sama lainnya. Contoh,jika garis kontur 100 meter adalah gambaran garis lepas pantai ke sambungangaris pantai,semua kedalaman 100 m harus pada garis tersebut dan semua hasil sounding yang lebih dangkal dari 100 m harus di antara garis kontur tersebut dan pantai. Jika hasil sounding lebih besar dari 100 m yang ditemui di wilayah yang dilukiskan dengan kontur tersebut,letak garis-garis harus disesuaikan (Siregar dan Selamat 2009).
Kita dapat memperleh topografi dari peta kontur ataupun peta laut dengan membentuk atau membangun suatu topografi sepanjang garis pilihan atau lintasan.Profil adalah seperti suatu grafik kedalaman dasar laut yang diplotkan secara vertical dan jaraknya diplotkan secara horizontal. Berdasarkan hasil penggambaran tersebut akan diperoleh bentuk dasar laut (Nurkhayati, 2014).
Asas yang sama digunakan untuk letak dari garis ysng bertambah kedalamannya. Wilayah garis antara 100-200 m tidak harus memuat titik-titik kurang dari 100 m atau lebih dari 200 m. Jarak penutup antara kontur-kontur menunjukkan suatu slope yang curam atau suatu kecuraman diubah menjadi kedalaman. Akhirnya garis kontur menutup diatasnya. Kontur-kontur yang sedikt menonjol dapat tertutup di dalam daerah  peta,sehingga ujungnya bergabung/menyatu,sedangkan kontur-kontur yang lebih besar akan menonjol dan menutup turunan wilayah peta (Fachrurrozi et al. 2013).
Global Mapper adalah salah satu perangkat lunak yang cukup populer sering digunakan oleh kalangan praktisi GIS atau orang-orang yang berkecimpung di bidang pemetaan. Salah satu keistimewaan program ini adalah kompatibilitasnya dengan banyak sekali format file. Sehingga dapat digunakan oleh banyak orang untuk pengetahuan lain (Siregar dan Selamat 2009).
BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari selasa, 06 Februari 2018, pukul 13:00 WIB sampai dengan selesai. Pratikum ini dilaksanakan di Laboratorium Oseanografi dan Instrumentasi Kelautan Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sriwijaya.

3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini:
No
Nama
Fungsi
1.

2.

3.
Laptop

Mouse

Sofware Global Mapper
Digunakan untuk mengolah data dari sofware
Mempermudah mengeser pointer
Sofware yang digunakan pada saat pratikum


3.3 Cara kerja
 











 




















































Untuk melihat data dalam format tiga dimensi kita bisa mengunakan icon  3D kita akan mendapatkan tampilan peta Indonesia
 
 
















Ø Mengunakan Global Mapper
 












Ø

Klik  File Generate Contours Pada Box Contour Generation Option kita bisa mengatur interval kontur yang kita inginkan, misalkan disini kita atur intervalnya menjaidi 5 m. Pada Contour Bounds klik Lat atau Lon (Degrees), masukkan nilai koordinat peta dalam derajat decimal misalkan untuk peta batimetri Lombok barat
 
Menggunakan Data Batimetri dari SRTM ke Surfer



 



















3.3  Analisa data
1.    Buka softwere global mapper pada laptop atau komputer anda dan buka open your own data files.
 













2.    Kemudian pilih data yang akan digunakan.
 











3.    Kemudian pilih manually rectify image dan klik ok.
 













4.    Maka data peta akan terbuka sepert pada gambar dibawah ini.
 








5.    Kemudian lakukan penitikan pada bagian kiri atas dengan nilai X(114 20 00) dan Y(-1 50 00).







6.    Kemudian lakukan penitikan pada bagian kiri bawah dengan X(114 20 00) dan Y (-4 50 00).








7.    Kemudian lakukan penitikan pada bagian kanan bawah dengan X (121 10 00) dan Y ( -4 50 00).








8.    Kemudian lakukan penitikan pada bagian kanan atas dengan X (121 10 00) dan Y (-1 50 00).







9.    Maka di dapatkan hasil penitikan sebanyak 4 point penitikan.
 







10.    Kemudian klik aplly dan ok.








11.    Kemudian akan di dapat hasil registrasi seperti pada gambar dibawah ini
 








12.    Kemudian klik file pilih export dan pilih export raster atau image format.







13.    Kemudian pilih format geotiff dan klik ok..








14.    Kemudian pilih file type dangan tipe 24-Bit RGM dan klik ok.
 








15.    Kemudian tentukan nama file yang akan di save.







16.    Kemudian data akan tersimpan pada lokasi yang diinginkan.








17.    Kemudian buka softwere ArcGis pada komputer atau laptop anda.







18.    Kemudian klik add data dan pilih data yang akan digunakan lalu klik add.








19.    Kemudian tunggu proses dan akan muncul tampilan seperti dibawah ini.








20.    Kemudian klik katalog, klik kanan pada file yang diinginkan lalu pilih new dan klik shapefile.








21.    Kemudian buat nama dan feature type.






22.     Kemudian tentukan word WGS 1984 dan klik ok.







23.    Kemudian klik editor, klik start editing dan lakukan penitikan sebanyak 50 titik.
 








24.    Setelah itu stop editing.
25. 
 








26.    Klik kanan pada batimetri,pilih open attribute table.
27. 
 








28.    Klik add file.








29.    Kemudian tentukan nama, pilih type text dan ok.







30.    Kemudian masukkan anggka pada tebel berdasarkan titik yang telah ditentukan.







31.    Maka didapatkan hasil seperti dibawah ini sebanyak 50 data.









32.    Maka didapat hasil penitikan.






BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Hasil digitasi
 














4.1.2 Hasil attribude table
 






















4.2 Pembahasan
          Dari praktikum yang telah dilakukan mahasiswa dapat melakukan pembuatan peta batimetri dengan menggunakan beberapa softwere diantaranya global mapper, surfer9 atau ArcGis. Langkah-langkah yang dilakukan memang cukup panjang dan rumit. Itulah sebabnya mahasiwa harus benar-benar konsenstrasi dalam mendigit dan menggabungkan hasil digitan dari laut, pulau dan darat. Karena apabila kita salah sedikit saja dari langkah yang sudah di tentukan, maka hasil yang kita dapat bisa saja jauh berbeda dengan hasil yg seharusnya, itulah harus dibutuhkan ketelitian dan nalar yang sangat tinggi dalam pendigitan dan praktikum kali ini.
          Dalam melakukan pendigitan pada saat registrasi pada global mapper harus dilakukan dengan benar dan teliti, karena pabila salah dalam penginputan data dan salah dalam membaca setiap titik koordinat pada peta maka hasil yang didapatkan pada registrasi akan tidak bisa maksimal. Oleh karena itu sangat dibutuhkan sekali ketelitian dan pemahaman yang tinggi. Pada ArcGis juga dilakukan pendigitan sebanyak 50 titik yang berbeda. Jadi setiap titik itu juga memiliki kedalaman yang berbeda-beda satu sama lain.
          Alur selat makasar merupakan alur pelayaran di sekitar pulau kalimantan dan Pulau sulawesi yang terletak di pantai timur. Setelah didapatkan peta, kemudian diolah menggunakan software global mapper kemudian dilakukan digitasi terhadap laut kemudian data di-grid dan diperolah kontur batimetri seperti gambar diatas. Dapat diketahui bahwa suatu garis pantai merupakan suatu batas pertemuan dimana diantara bagian laut dan daratan pada saat terjadi air laut pasang tertinggi.
          Dapat diketahui juga satu mil sama dengan 1,852 kilometer. Pada hasil registrasi biasanya ada saja yang mendapatkan hasil peta yang terbalik hal tersebut dikarenakan pada saat pengisian titik koordinat longitude dan latitude terjadi kesalahan seperti tanda min. Sehingga pada titik koordinat Y harus diberikan tanda min supaya peta yang dihasilkan tidak terbalik. Selain itu juga peta batimetri sangat digunakan dimana sebagai data informasi mengenai dasar laut. Pada praktikum ini didapatkan empat titik koordinat yang diantaranya yaitu pertama X(114 20 00) dan Y(-1 50 00), kedua X(114 20 00) dan Y (-4 50 00), ketiga X (121 10 00) dan Y ( -4 50 00) dan yang keempat X (121 10 00) dan Y (-1 50 00).
BAB V
KESIMPULAN

          Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu:
1.    Data yang digunakan dalam praktikum ini data peta Selat Makasar.
2.    Software global mapper dan ArcGis digunakan nntuk membuat peta batimetri.
3.    Kesalahan dalam pembacaan dan pengisian titik koordinat peta pada saat registrasi dapat menyebabkan hasil peta miring ataupun terbalik.
4.    Software ArcGis digunakan pada saat melakukan pendigitan peta batimetri.
5.    Peta batimetri dapat digunakan untuk informasi mengenai dasar laut.






















DAFTAR PUSTAKA

Arief M, Maryani H, Wikanti A dan Ety P. 2013. Pengembangan pendugaan metode kedalaman perairan. Jurnal Oseana. Vol 2(1): 112-121.

Bobsaid MW, Jaelani LM. 2015. Studi Pemetaan Batimetri Perairan Dangkal Menggunakan Citra Satelit Landsat 8 dan Sentinel-2A (Studi Kasus : Perairan Pulau Poteran dan Gili Iyang, Madura). Jurnal Teknik ITS. Vol 4 (1): 629-633.

Effendi K, Risandi DP, Arief P. 2015. Pemetaan batimetri Perairan Pantai Pejem Pulau Bangka. Jurnal Oseanografi. Vol 4(2).

Fachrurrozi M, Widada S, Helmi M. 2013. Studi pemetaan batimetri untuk keselamatan pelayaran Di Pulau Parang, Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Oseanografi. Vol 2 (3): 310-317

Kusumawati ED, Handoyo G, Hariadi. 2015. Pemetaan batimetri untuk mendukung alur pelayaran di Perairan Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Jurnal Oseanografi. Vol 4(4): 706 – 712.

Nontji A. 2007. Laut nusantara. Jakarta: Djambatan.

Nurkhayati R. 2014. Pemetaan batimetri perairan dangkal menggunakan citra quickbird  di Perairan Taman Nasional Karimun Jawa,  Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Jurnal Oseanografi. Vol 3(4).

Rahmawan GA, Wisha UJ, Husrin S, Ilham. 2016. Analisis batimetri dan pasang surut Di Muara Sungai Kampar: pembangkit penjalaran gelombang pasang surut undular bore (Bono). Jurnal Ilmiah Geomatika. Vol 22 (2): 57-64.

Riadi E, Muhammad Z, Purwanto, Priatin H W. 2014. Studi kondisi dasar perairan menggunakan citra subbottom profiler di Perairan Tarakan Kalimantan Timur. Jurnal Oseanografi. Vol 3 (1).

Siregar VP, Selamat MB. 2009. Interpolator dalam pembiuatan kontur peta batimetri. Jurnal Ilmu Dan Teknologi Kelautan Tropis. Vol 1(1): 39-47.

Syaputri MD, Setiyono H, Subardjo P. 2016. Kajian batimetri untuk penentuan alur pelayaran Di Pelabuhan Teluk Sabang, Sabang, Nangroe Aceh Darussalam. Jurnal Oseanografi. Vol 5 (1): 148 – 160.